Jesus in on the way – Ekaristi Kaum Muda – Kolsani

Jesus in on the way – Ekaristi Kaum Muda – Kolsani

Minggu, 18 Mei 2014 pukul 18.00 kemarin, para frater Kolsani telah berhasil menyelenggarakan Ekaristi Kaum Muda (EKM) dengan apik.

Live performance dari frater yang membawakan lagu Taize menjadi persembahan pertama sebelum Ekaristi dimulai. Setelahnya, Ekaristi diawali dengan penghancuran ogoh-ogoh. Mengapa diambil lambang ogoh-ogoh? Dalam kebudayaan Bali, ogoh-ogoh dikenal sebagai karya seni patung yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala; dan dalam ajaranHindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan ‘kekuatan alam semesta’ (Bhu) dan ‘waktu’ (Kala) yang tak terperikan dahsyatnya; suatu daya yang dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia, ke alam kehancuran. Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala sendiri biasanya dibuat dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Kemudian ada yang berbeda dalam seruan tobat, Romo Krispurwana Cahyadi berintekasi langsung dengan dua orang muda yang mau bercerita tentang kegalauan yang sedang mereka alami. Dua sosok kaum muda tersebutmengungkapkan perjalanan hidup yang berbeda. Sosok pertama (Fr.Dhimas) menghadapi hidup yang datar dalam zona nyaman dan merasa biasa-biasa saja saat bersinggungan dengan dosa. Sementara itu, sosok kedua (Fr. Eko) justru merasa terus gelisah, apa-apa dianggap dosa.Itu pula yang membuat sosok kedua ini tak pernah bisa dan tak beraniuntuk mengambil keputusan penting, sampai ‘skripsinya di tahun terakhir pun terasa tak berakhir-berakhir’.

Ekaristi kemudian dilanjutkan dengan liturgi sabda. Bacaan Injil kali ini dibawakan dengan berbeda. Injil yang diambil dari Yohanes 14: 1-12 divisualisasikan dengan gaya ketoprakan oleh Frater Tama, Lesnanto, Sani, dan Wahyu dalam acting yang tampak amat terlatih. Selesai visualisasi, Romo Krispurwana Cahyadi mengajak salah seorang teologan,yaitu Frater Suryadi, untuk berbagi cerita tentang kegalauan jalan hidupnya. Lewat ‘lika-liku seorang laki-laki’, Fr. Sur akhirnya justru menemukan ‘Jalan-Kebenaran-Hidup’ setelah memutuskan untuk masuk dan menjalani ‘laku’ dalam Serikat Yesus.


Dok:Kolsani

Cerita dari dua anak muda pada seruan tobat serta sharing dari Frater Suryadi merupakan refleksi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh kebanyakan anak muda. Kutipan Injil, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup” diangkat sebagai tema dasar dalam refleksi atas pencarian kebenaran yang dicari kaum muda selama ini. Di tengah homili, oleh Romo Kris, kaum muda pun diberi waktu untuk merenungkan pengalaman-pengalaman imannya saat ‘disapa Yesus’ dan bahkan diberi kesempatan untuk menuliskannya dalam teks ekaristi dengan bolpoint hadiah dari Kolsani yang bertuliskan ‘Jesus is on the Way’. Muaranya jelas, sudah semustinya Jesus dipandang sebagai obat bagi kegelisahan,kekhawatiran dan kegalauan, karena memang Dia adalah Jalan, Kebenaran,dan Hidup. Alunan lagu dengan suara merdu dari Fr. Adri, dan iringan nada biola – klarinet – gitar dari Fr. Ferdi, Okta dan Tomi, dibantu kekompakan koor dari ‘Mlenuk Voice’, menambah suasana EKM senja-malam itu terasa oke banget.

Perayaan Ekaristi Kaum Muda yang dibanjiri oleh ribuan kaum muda ini berlangsung 93 menit. Halaman gereja terasa tak mampu menampung kehadiran mereka, maka sebagian ‘terpaksa’ harus mengikutinya dari jalan Nyoman Oka. Waktu Ekaristi yang amat panjang – untuk ukuran Kotabaru – ternyata tak membuat kaum muda gelisah. Mereka tetap setia sampai akhir, bahkan di akhir Ekaristi pun, mereka tak canggung ikut menari mengikuti lagu “Human” dalam flash mob bersama dengan seluruh frater dan rekan-rekan MAGIS Jogjakarta. SELAMAT DAN PROFISIAT UNTUK KOLSANI!

Close Menu